Real :)
5 Tahun lalu aku adalah sesosok wanita hebat yang dicari bos-bos berbagai bank ternama di Indonesia, dikejar investor-investor asing untuk bekerja sama, Karena saat itu bisa dibilang aku adalah tangan kanan orang-orang penting bank ternama di Indonesia. Kehidupanku dijalanan hampir 24 jam setiap hari, keberadaanku tak menetap dan menapakkan kaki ditempat yang berbeda yang kadang orang melihatku seperti kupu-kupu berlarian kesana kemari.. dalam satu hari kadang kaki ini menapak ke Australia, Indonesia, Malaysia.. hampir setiap minggu aku keliling negara-negara tetangga.. Saat bosan melanda tiket penerbangan ke Paris, Jepang, Singapure dll begitu mudahnya, butuh sesuatu yang aku inginkan begitu mudahnya juga akan ku dapatkan. Begitulah kehidupanku saat itu, orang melihat mungkin berpandangan begitu sempurnanya aku mendapatkan kesenangan dunia.
Beberapa
tahun aku lalui kehidupan ini, tiba-tiba aku merenung dibawah cahaya bintang
yang bersinar terang beratapkan langit malam dengan pemandangan kolam yang
berwarna biru, cahaya kota malam yang ikut menemani, suara musik disko kencang
berbunyi didalam, akupun duduk di kursi berteduh payung kecil berwarna-warni
dengan hidangan malam yang begitu menggoda, tetapi dari semua itu hanya
bintanglah yang membuatku terpesona hingga meneteskan air mata. Akupun bertanya
kepada diriku ini kenapa hati ini kosong.. sangat kosong.. sangat begitu
kosong, semua kebahagiaan dunia bisa ku dapat tetapi Yang Maha Memiliki dimana?
Tak ada dihatiku.. Hambar, kosong, dan tak ada rasanya sama sekali. Akupun
tersadar selama ini aku jauuuuuh sekali denganNYA, aku hanya memikir kan
kehidupan duniaku saja, aku egois memikirkan diriku sendiri. Kehidupanku
sekarang membawa arus semakin menjauh dariNYA.. sholat yang menjadi tiang
agamaku tak pernah aku sempatkan.. waktu sholat selalu disibukkan dengan client , apalagi menolong sesama tidak
mungkin ada waktu dengan seabrek pekerjaanku itu.. aku tak pernah menjalankan
perintahNYA.. kebahagiaanku sekarang hanya uang, club malam, nongkrong dan
berlibur kemanapun yang aku mau. Air mata seketika mengalir deras membasahi
pipi sangat lembut, aku butuh DIA ada dihatiku.. dan aku butuh pendamping untuk
kehidupan dunia dan akhiratku, Allah dan jodoh tak pernah ku pedulikan, semua
terabaikan dengan duniaku sekarang. Apa yang harus aku lakukan Allah?
Tak
lama setelah itu tepatnya 2010, terdengar kabar ditelingaku gunung Merapi
Yogyakarta meletus begitu dahsyatnya, korban dan kerusakan dimana-mana. Saat
sayapku mulai beraksi terbang kesana kemari untuk menemui client dan rapat dimana-mana, mataku selalu berpusat pada gunung
Merapi.. terbesit dalam fikiranku “apa yang bisa aku lakukan untuk menolong
mereka, aku tak ingin lagi egois yang hanya mementingkan diriku sendiri, mereka
disana butuh uluran tangan dariku.. Aku tak pantas hanya memikirkan dan
berencana, aku harus bertindak”. Tak lama setelah itu akupun meminta cuti
kepada bos beberapa hari. Seketika bos menawarkan cutiku untuk berlibur
kemanapun yang aku mau, tapi itu semua sekarang bukan apa yang aku inginkan.
Sesampainya
di Jogja akupun berlarian menghapiri posko-posko merapi, sayangnya mereka tak
ada yang menerimaku sebagai relawan karena aku hanya memiliki kemampuan Ekonomi
bukan Kesehatan. Keinginanku tak rapuh dan mencari informasi dimanapun tentang
bantuan yang dapat aku lakukan untuk mereka. Tak lama kemudian aku dibutuhkan
untuk membantu menjadi relawan bermodal tenaga bukan ahli medis yang banyak
dibutuhkan. Uangku tak sadar menipis untuk perjalanan kesana kemari, saat itu
aku hanya membawa baju 3 lapis dan uang yang tak begitu banyak. Sekarang uangku
tersisa 15.000,- dan tanpa fikir panjang akupun meminta tolong bos diperusahaan
kayu terbesar di Indonesia untuk mengirimkan 2 truk kayu ke Jogja sebagai
alternatif untuk memasak. Tak terasa libur cutiku sudah habis, tapi hatiku tak
lagi disana.. aku ingin menolong mereka disini, mereka masih membutuhkan uluran
tanganku. Tanpa fikir panjang akupun meminta berhenti dari pekerjaanku itu,
syok hebat tanggapan bosku kala itu “apa? Serius? Jangan main-main.. sekarang
kamu dimana? Saya datangin kamu kesitu”.
Bos
datang ketempatku berada di posko Merapi, bos terheran-heran dan berkata “ ini
jalan pilihanmu? Saya tidak bisa memaksamu, tetapi perusahaan selalu terbuka
lebar untukmu jika ingin bergabung lagi bersama kita dan apapun jabatan yang
kamu mau akan aku turuti”. Rasanya bumi runtuh dan hujan badai menerpaku kala
itu.. tapi dengan tegas dan keyakinan hati inilah pilihanku menuju jalanNYA. ATM
tak ku pedulikan dimana, rumah ku titipkan teman-temanku disana, hartaku semua
ku tinggalkan. Sebelum bos pergi aku di hadiahkan sebuah amplop olehnya dengan
isi uang sebesar 15.000.000,- alhamdulillah sangat bersyukur.
Sangat-sangat bersyukur kini hidupku walaupun
uang dan kesenangan dunia tak lagi kudapatkan dan tamparan setiap hari aku
rasakan saat melihat mereka tergeletak dengan kondisi yang sangat tidak kuat ku
melihatnya.. gosong, kulit mengelupas dan banyak lagi lainnya. Air mata tak
berhenti mengalir “beginilah besok saat aku dijemput ajalku.. tak membawa
hartaku satupun.. tapi ibadahlah bekalku untuk akhirat kelak.. kenapa dulu aku
harus mengejar duniaku saja ,Allah maafkan aku.. aku butuh Engkau dihatiku”.
Merapi mulai membaik.. semua korban sudah
menempati rumah-rumah yang disiapkan pemerintah. Sekarang hidupku di Jogja
seperti gelandangan yang tak punya langkah harus kemana untuk mencari ridho dan
jalanNYA.. Setelah mencari berbagai info akupun akhirnya tinggal di pesantren
Tahfidz tempat santriwan dan santriwati menuntut ilmu dan menjadi hafidz dan
hafidzah Al-Quran. Aku mencari DIA dari ujung sampai ujung sampai kepelosokpun
akan aku lalui. DIA memang dihatiku tetapi untuk tetap istiqomah akupun butuh
banyak belajar.
Orang tua memang tak pernah menyetujui jalanku
saat ini.. kenapa aku meningglkan pekerjaan itu begitu saja dan sekarang
menjadi pengangguran. Kesibukanku sekarang kajian, hafal al-Quran dan seiring
dengan mencai pekerjaan yang selalu dijalanNYA..
Suatu ketika aku sangat lapar dan uangpun tak
cukup untuk makan, aku yakin Allah tidak akan membiarkan hambanya jika sedang
membutuhkan pertolonganNYA, DIA tidak tidur.. yang punya rizky hanya DIA, maka
meminta juga hanya padaNYA. Aku melangkahkan kaki kemasjid dan berdoa dengan
airmata yang tak tertahan saat itu “Allah aku lapar.. jika engkau ridho beri
kemudahan aku berusaha untuk mendapatkannya”. Tak lama setelah itu ada wanita
setangah baya yang datang menghampiriku dan bertanya jadwal kajian dimasjid
ini, tiba-tiba wanita setengah baya itu menangis dan menceritakan masalah yang
sedang dihadapinya, aku berusaha menenangkan dan memberi sedikit masukan yang
pernah aku pelajari dari mengajiku selama ini. Tiba-tiba Allah menjawab do’aku,
wanita setengah baya itu mengajakku makan dan mengajakku kerumahnya dengan
oleh-oleh dari beliau sebuah amplop berisi 500.000,- . Tak ada yang kebetulan J
Seiring berjalannya waktu aku diberi banyak
kepercayaan oleh orang-orang hebat dan ustadz untuk mengelola usahanya. Sampai
saat ini aku banyak diberi kesibukan mengelola tahfidz, organisasi sedekah, mengelola
usaha dan aku diberi kepercayaan untuk tinggal dirumah milik salah seorang
ustadz untuk merawatnya yang bagiku itu tergolong mewah seperti rumahku dulu
yang ku tinggalkan, Kesibukanku sekarang berlarian kesana kemari seperti
kupu-kupu layaknya saat itu tetapi kesibukanku sekarang semakin mendekatkan aku
kepadaNYA dan aku merasa hidup ini begitu sempurna dengan kehadiran orang-orang
disekelilingku. Allah sayang kepadaku dengan caranya menunjukkan jalanku yang
sekarang bermanfaat untuk diriku, orang lain dan akhirat insyallah.. inilah
hidup yang sebenarnya.. barokalloh J