Saat
kaki mulai menapak di ibukota yang banyak orang bilang kota dengan isinya yang
kejam dengan segalanya, Kata “Ibu Kota” adalah sebutan yang luar biasa pada
kota ini.. Yang seharusnya menjadi Induk dan pembimbing yang baik untuk kota
lainnya. Senja menemani perjalanan pertamaku, rasa lelah dan senang yang beradu
ketika 3 hal dalam pikiran menjadi satu yang menjadi tujuan kaki melangkah ke
ibukota.
Dengan
meminta perlindunganNYA selama berada di ibukota, dan seketika bunyi kereta api
berlalu dari sudut pandanganku membangunkanku dari lamunan dan rasa bimbang
yang menyelimuti saat itu. Dengan tegas mengambil tindakan kini pandanganku
sudah dihadapkan dengan mini bus yang akan mengantarkanku menuju persinggahan
selama di Ibukota, berbekal “malu bertanya sesat dijalan” itulah mengapa diri
ini bisa disebut ngebolang diIbu kota :p
Padatnya
jalanan malam minggu yang banyak orang bilang harinya para remaja, tapi tidak
begitu dengan ibukota, anak-anak sampai kakek-nenekpun terlihat ikut memadati
kota ini. Malam yang sangat ramai dengan gemerlap lampu kota tak kalah dengan
cahaya langit yang mulai gelap kala itu. Ketika mata mulai tak tertahan untuk
bekerja sama tetapi otak terus mempengaruhi untuk tetap bertahan melihat
kemegahan ibukota, dan akhirnya sampailah ketempat persinggahanku dan menikmati
malam minggu di kota Tangerang..alhamdulillah tujuan 1 tercapai..hehe
Bertemu
dengan kawan yang sudah lama tak jumpa mengenakan baju garis2 biru muda yang
tiba-tiba menghampiriku dalam sebuah mimpi malamku tadi, seketika terdengar panggilan
dari Allah adzan shubuh dan gemericik kran air membangunkanku untuk segera
bergegas menghadapNYA dan bersiap-siap menuju tujuan 2. Dengan motor putih
berbodi besar aku diantar menuju tempat tujuan sebelum matahari terbit dan
udara yang sedikit menusuk pori-pori kulit, perjalanan yang lumayan sekitar 1,5
jam melewati padatnya ibukota yang sudah terbayangkan sebelumnya.
Dengan
keyakinan diri sampailah di tujuan 2, bertemu dengan ribuan orang yang memiliki
tujuan yang sama memadati Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Berpetualang
dimulai saat terik matahari ibukota mulai terasa menyengat dikulit, berprinsip
untuk tidak merepotkan dan membebani orang lain, memberanikan diri kaki
melangkah dari masjid berputar GBK yang lumayan membuat kaki lecet, dengan
modal mulut akhirnya kopaja yang akan mengantarku, berkeliling Ibukota dengan
kopaja bagiku tak menjadi masalah selagi diri tak terganggu. Usut punya usut
kopaja berakhir di terminal JakSel, dan itu bukan tempat yang ku maksud. Dengan
tas yang lumayan membuat badan dan tangan lelah membawanya aku bergegas
mengambil tindakan yaitu Busway Trans-Jakarta. Dibawanya aku keliling JakSel
dan JakPusat, transit Matraman untuk berpindah Busway aku lakoni.. Akhirnya
halte Senen inilah yang aku maksud, berjalan sampai tempat pemberhentian kereta
api. Rasa lelah dan terik matahari yang luar biasa setelah berkeliling ibukota
seorang diri akhirnya disegarkan oleh air wudhu yang seketika sedikit
menghilangkan rasa lelah. 4jam menguji kesabaran penantian menuju halaman
rumah.
Didalam
penantian, aku dihadapkan oleh seorang anak membawa karung dan membuka satu
demi satu bak sampah disekitar tempatku bersandar. Matapun berlinang saat
melihatnya memakan dan meminum sisa makanan dalam tong sampah itu, ternyata
airmata ini dari Allah mengingatkanku agar lebih banyak bersyukur dalam semua
hal, walaupun tujuan ke 3 tak terwujud saat itu mungkin lain waktu yang sudah
DIA rencanakan.
Panggilan
kereta yang akan mengantarkanku sudah terdengar bersamaan dengan adzan Maghrib
yang berkumandang, kaki yang melangkah menuju loket penukaran tiba-tiba Allah
menggerakkan kaki untuk berputar menuju mushola, Allah dulu kata hati
terdengar. Jika DIA ridho tak mungkin aku akan tertinggal karena ini panggilanNYA,
DIA yang Maha segalanya. Kalaupun tertinggal akan ada jalan lain yang DIA
siapkan. Alhamdulillah menuju kereta dan bergegas untuk duduk, bunyi kereta dan
roda bergerak yang menandakan keberangkatan, Thanks GOD.. bye Ibukota J